Jumat, 23 Februari 2018

Menulislah, Abadikanlah


Kisah, bagaimana pun tidak masuk akalnya relatif lebih berkesan dan susah dilupakan dibanding bacaan lainnya. Suatu ketika saya jumpai artikel yang memuat kisah ulama. Dikisahkan ulama ini tengah belajar dan mencatat ilmu dari sang guru. Qadarullah, pensil yang ia gunakan untuk mencatat patah di tengah asyiknya ia menggeluti lembar demi lembar tulisannya.

Seketika ia berteriak, "siapa yang mau menjual pensilnya, saya mau beli seharga satu dinar!" tak lama beberapa pensil disodorkan padanya dan ia kembali asyik dlm dunia menulisnya. Ah, sayangnya saya lupa nama ulama itu. Benarlah apa yang disampaikan Amirul Mukminin, Umar ra. "Ikatlah ilmu dengan menulisnya."

Namun, di zaman now yang mana info atau ilmu bisa didapat semudah sekali klik, rasa-rasanya bikin orang malas menulis. Kalo lupa kan bisa tanya om gugel begitu alasannya (lebih tepatnya alasan saya😅😅)

Daaan.. Taraa.. Ini hasilnya ketika sy tanya om gugel, tentang pena satu dinar itu:

AL HAFIDZ MUHAMMAD BIN ABDISSALAM AL BIKANDI adalah salah satu guru Imam Al Bukhari. Suatu saat beliau menyukai majelis imla` hadits. Saat itu syaikh di majelis itu mendiktekan hadits namun tiba-tiba pena Al Bikandi patah. Khawatir tidak ada kesempatan lagi untuk mencatat, dia akhirnya mencari cara agar segera dapatkan pena. Tak lama kemudian dia berteriak, "Saya mau beli pena dengan harga satu dinar!" Saat itu, banyak pena disodorkan kepada beliau. (Umdah Al Qari, 1/165).

Kini, satu dinar emas, kalau dikurskan ke rupiah kurang lebih 2,1 juta. Al Bikandi rela kehilangan uang itu, sebenarnya bukan untuk membeli pena, tapi, agar beliau memperoleh kesempatan mencatat hadits. Mereka berdua memilih kehilangan sekeping dinar emas dari kehilangan kesempatan menulis hadits.
(http://m.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2012/03/15/4345/kisah-pena-1-dinar-al-bikandi.html)


Masya Allah..  "Hanya" agar tak ketinggalan menulis, Albikandi rela merogoh kocek sedalam itu. Hebat! Tak salah kata pepatah, "orang hebat ialah yang bisa menghebatkan orang lain". Dari guru Albikandi itu kemudian lahirlah Imam Bukhori, sosok murid yang fenomenal, meski tuna netra di usia kecilnya namun Allah beri taufik dan pertolongannya hingga ia mampu melihat kembali dan menjadi pendekar hadits nomer wahid.

Ya Allah, disini kadang saya sedih dan ingin mentertawai diri sendiri. Apalah diri ini.. Ingin mencetak anak2 hebat, tapi belum berbuat apa2..

Teringat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan dia.” [HR. Muslim]

Semoga Allah masih memberikan kita kesempatan untuk berproses demi meraih tiga hal diatas. Sahabat Nabi, Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan mempekerjakan/menggunakannya”,beliau ditanya, “Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal”. (HR. Tirmidzi)


Mudah-mudahan tulisan ini terus menggema di sanubari agar bisa menjadi longlife motivation untuk terus berkarya. Menulis untuk mengabadikan ilmu yang bermanfaat. Aamiin. Wallahu a'laam.

Muji Budi Lestari untuk #tantanganklubmenulisHSMNsulawesi

14 komentar:

  1. menulislah, abadikanlah :)

    apalagi skr tdk perlu lg beli pensil bun muji 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iye, cukup kuota dan signal kuat saja..
      Jangan2 nanti ada Albikandi zaman now, kalo signal lagi gangguan dia teriak, "Siapa disini yang mau jual signal, saya beli sekalian towernya," hihihi

      Hapus
    2. Hahahaha.... bisa ajaaa bundaa nihh... mantaapp bun 😁😁

      Hapus
    3. Hahahaha.... bisa ajaaa bundaa nihh... mantaapp bun 😁😁

      Hapus
  2. Masya Allah. Selalu ada hikmah di balik kisah para ulama.

    Barakallahu fiik, bunda Muji

    BalasHapus
  3. Masyaa Allah.. saya masih suka menulis dengan pensil ketimbang mengetik *gak ada yang nanya 😅

    Aamiin.. keep dakwah bil qalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... buat sy menulis tetap andalan, biar bikin konsep pake nulis dulu 😅😅

      Hapus
  4. Aduh terlambat sekali saya belajar.. Tulisannya bagus bunda

    BalasHapus
  5. masyaallah... keep on writing, bun...

    BalasHapus
  6. Suka banget tulisannya bund.. Motivasi abadi 🌷🌷

    BalasHapus
  7. Senangnya dikunjungin ibu2 sholehah.. Mari saling memotivasi utk jadi "karyawan" Allah lewat blogging ini..
    😘😘

    Terima kasih HSMN telah memantik kembali semangat menulis yg sdh hampir
    padam ❤❤

    BalasHapus
  8. MasyaAllah...motivasinya dapat,! Thanks bun muji...bersama kita menebar kebaikan melalui menulis ...

    BalasHapus
  9. MasyaAllah...motivasinya dapat,! Thanks bun muji...bersama kita menebar kebaikan melalui menulis ...

    BalasHapus