Muji budi lestari
Selasa, 17 April 2018
Ketika putri kecilku terlahir ke dunia
Nak, ibu mana sih yg tidak bahagia mendapati dirinya hamil? Apalagi jika kehamilan itu telah lama ditunggu..
Nak, umi ingin cerita bagaimana dulu perjuangan umi untuk melahirkanmu. Mungkin menurut umi-umi lain, umimu ini wanita yang sangat beruntung. Sudah dititipi dua kakak jagoan kembar. Eh tidak lama Allah titipkan kamu nak. Tepat setelah kakak berumur genap satu tahun. Ketika itu umi tak sadar bahwa kamu telah berada di rahim umi. Umi hanya merasa pegal2, capek2, loyo karena terlalu sibuk dgn segala aktivitas rumah tangga tanpa bala bantuan, ditambah menemani kakak2 yg super aktif main.. Bikin umi selalu mengeluh sama abi, dan minta pijit..
Eeh setelah diperiksa barulah umi tahu ternyata kamu sudah tinggal di rahim umi.. Pada saat itu umi harap2 cemas, gimana ya kalo nanti punya anak cowok lagi.. Apalagi kalau kembar lagi... Dua saja sudah jungkir balik rawatnya... Semoga ini janinku cewek ya Allah.. Dan satu dulu. Jangan dulu kembar. Begitu bisik umi padamu dulu nak..
Sedihnya, ketika itu lingkungan termasuk nenekmu sendiri dan dokter tempat umi periksa terlalu fanatik terhadap ilmu kedokterannya.. Umi disalahkan krn tidak pake kontrasepsilah, terlalu ini itu lah... Umi sempat frustasi dulu nak... Apalagi dengan berbagai ancaman yg MUNGKIN terjadi padamu.. Sebab kedua kakak dulu lahir melalui proses operasi caesar... Harus operasi lagi lah, nanti anaknya ngga keuruslah, resiko umi kena ini itu dan semua kemungkinan2 yg belum pasti terjadi. Bayangan buruk sering terlintas di benak umi. Namun semua itu umi serahkan pada Allah. Umi yakin Allah tak akan membebani hamba diluar kesanggupannya... Umi terus berdoa agar Allah beri umi kemampuan utk melahirkanmu melalui jalan lahir tanpa bantuan dokter itu.
Setiap bulan umi ajak kakak2 untuk turut serta memeriksakan kandungan umi, berharap kamu sehat selalu dan berkembang sempurna.. Alhamdulillah saat itu, setelah umi mencari2 tenaga kesehatan yg "baik" dan sangat memahami kondisi wanita seperti umi ini, akhirnya Allah pertemukan kita dengan seorang ibu bidan yg saangaaat baik, lbh dari yg umi bayangkan.. Tapi sayangnya, kondisi kehamilan umi kurang baik. Umi sering drop, perkembanganmu pun kurang sehingga umi disarankan utk bedrest. Ya Allah.. Sedihnya umi ketika itu, nak. Bagaimana mungkin umi bisa bedrest, sedangkan tidur malam aja susah. Mana pekerjaan rumah tidak ada habisnya. Mana lagi jauh dengan sanak kerabat krn nemenin abi sekolah lagi. Mana kakak kembar harus disapih sebelum waktunya shg selalu rewel.. Belum lagi "teror" dr tetangga yg merasa terganggu dengan tangisan kakak2...
Hmmm... Kalau diingat2 nak, rasanya seperti tak mungkin kamu akan terlahir sempurna di dunia ini. Jika bukan umi yg harus "berkorban" mungkin kamu yg akan "berkorban"... Tapi lagi2.. Betapa Allah maha kuasa atas segala urusan. Manusia mana yg bisa merubah ketetapan yg telah Allah putuskan....
Hari itu, kamis dan tempo kelahiranmu telah dekat. Berhubung bu dokter yg fanatik ilmu itu satu2nya dokter perempuan di rumah sakit terdekat. Mau tidak mau umi harus ditangani oleh beliau. Tenggat waktu telah ditentukan. Pekan depan. Hari kamis. Setelah bu dokter pulang dr jakarta. Kamu dijadwalkan akan "lahir" dengan bantuan dokter itu. Saat itu umi masih tak putus berdoa, semoga kamu bisa lahir sendiri tanpa bantuannya. Qaddarullah, sabtu malam umi mulai merasakan sakit2 di perut. Hingga ahad sakit2 masih terasa tapi tak ada peningkatan umi periksa katanya belum ada pembukaan. Senin pun sama. Umi periksa lagi dan masih pembukaan satu. Bu bidan khawatir dan menyuruh umi segera ke rumah sakit. Tapi umi masih bertahan dan terus berdoa dengan doa yg sama setiap hari. Hingga selasa malam barulah umi rasa sakit semakin kuat. Sampai rabu pagi sakit semakin berulang dan semakiiin sakiiit.. Ya Allah, begini ternyata rasanya mau melahirkan. Krn dulu umi tak merasakan ini ketika melahirkan kakak2. Umi masih bertahan di rumah meskipun seisi rumah sudah panik. Umi terus menunggu Allah kabulkan doa umi. Sebab, kalaupun umi datang ke rumah sakit bu dokternya masih di jakarta. Umi tidak mau ditangani dokter laki2. Sampai akhirnya menjelang maghrib umi pun menyerah dan dibawa ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit, bukannya dilayani dengan baik, bukannya langsung ditolong... malah dimarah2i sama perawat dan bidan disana nak, masih dengan kata2 yg sama dan ancaman yg sama, sedihnya umi... Begitu kejamnya dunia medis hari itu.... Dan ternyata benarlah jika pertolongan terbaik dari Allah akan datang di saat paling kritis.
Alhamdulillah tanpa bantuan dokter, kamu mencari sendiri jalan keluar tepat setelah maghrib. Masya Allah... Ingin rasanya umi sujud syukur ketika itu. Tapi umi belum boleh terlalu banyak bergerak. Kamu lahir selamat, sehat, tanpa cacat. Tak bisa umi gambarkan kebahagiaaan umi waktu itu. Atas kuasa Allah, umi jadi tahu rasanya menjadi wanita yg bisa melahirkan secara normal. Ketika itu umi bahkan rela kalaupun harus kembali pada Allah setelah itu. Krn umi merasa sudah terlalu banyak nikmat yg Allah berikan pada umi. Apalagi ketika itu umi masih bisa melihat dan membelai tubuh mungilmu yang begitu tenang setelah bersandar di pelukan umi padahal sebelumnya tangismu pecah.
Kini hari2 bersamamu menambah meriahnya rumah kecil kita. Tak terbayang, betapa dulu kamu "tak diharapkan" oleh "mereka"... Tapi sekarang setiap saat " mereka" selalu menanyakan keadaanmu... Tak ada hal yg lebih membahagiakan selain saat2 membersamaimu dan menyaksikan kuasa Allah yg begitu menakjubkan pd dirimu.
Suatu saat nanti jika kamu telah dewasa dan siap menjalani kehidupan rumah tangga insya Allah umi akan ceritakan bagaimana dulu perjuanganmu hingga bisa sampai sebesar ini...
Semoga Allah karuniakan kita usia yg panjang dan berokah. Aamiin
Jumat, 23 Februari 2018
Menulislah, Abadikanlah
Kisah, bagaimana pun tidak masuk akalnya relatif lebih berkesan dan susah dilupakan dibanding bacaan lainnya. Suatu ketika saya jumpai artikel yang memuat kisah ulama. Dikisahkan ulama ini tengah belajar dan mencatat ilmu dari sang guru. Qadarullah, pensil yang ia gunakan untuk mencatat patah di tengah asyiknya ia menggeluti lembar demi lembar tulisannya.
Seketika ia berteriak, "siapa yang mau menjual pensilnya, saya mau beli seharga satu dinar!" tak lama beberapa pensil disodorkan padanya dan ia kembali asyik dlm dunia menulisnya. Ah, sayangnya saya lupa nama ulama itu. Benarlah apa yang disampaikan Amirul Mukminin, Umar ra. "Ikatlah ilmu dengan menulisnya."
Namun, di zaman now yang mana info atau ilmu bisa didapat semudah sekali klik, rasa-rasanya bikin orang malas menulis. Kalo lupa kan bisa tanya om gugel begitu alasannya (lebih tepatnya alasan saya😅😅)
Daaan.. Taraa.. Ini hasilnya ketika sy tanya om gugel, tentang pena satu dinar itu:
AL HAFIDZ MUHAMMAD BIN ABDISSALAM AL BIKANDI adalah salah satu guru Imam Al Bukhari. Suatu saat beliau menyukai majelis imla` hadits. Saat itu syaikh di majelis itu mendiktekan hadits namun tiba-tiba pena Al Bikandi patah. Khawatir tidak ada kesempatan lagi untuk mencatat, dia akhirnya mencari cara agar segera dapatkan pena. Tak lama kemudian dia berteriak, "Saya mau beli pena dengan harga satu dinar!" Saat itu, banyak pena disodorkan kepada beliau. (Umdah Al Qari, 1/165).
Kini, satu dinar emas, kalau dikurskan ke rupiah kurang lebih 2,1 juta. Al Bikandi rela kehilangan uang itu, sebenarnya bukan untuk membeli pena, tapi, agar beliau memperoleh kesempatan mencatat hadits. Mereka berdua memilih kehilangan sekeping dinar emas dari kehilangan kesempatan menulis hadits.
(http://m.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2012/03/15/4345/kisah-pena-1-dinar-al-bikandi.html)
Masya Allah.. "Hanya" agar tak ketinggalan menulis, Albikandi rela merogoh kocek sedalam itu. Hebat! Tak salah kata pepatah, "orang hebat ialah yang bisa menghebatkan orang lain". Dari guru Albikandi itu kemudian lahirlah Imam Bukhori, sosok murid yang fenomenal, meski tuna netra di usia kecilnya namun Allah beri taufik dan pertolongannya hingga ia mampu melihat kembali dan menjadi pendekar hadits nomer wahid.
Ya Allah, disini kadang saya sedih dan ingin mentertawai diri sendiri. Apalah diri ini.. Ingin mencetak anak2 hebat, tapi belum berbuat apa2..
Teringat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan dia.” [HR. Muslim]
Semoga Allah masih memberikan kita kesempatan untuk berproses demi meraih tiga hal diatas. Sahabat Nabi, Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan mempekerjakan/menggunakannya”,beliau ditanya, “Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal”. (HR. Tirmidzi)
Mudah-mudahan tulisan ini terus menggema di sanubari agar bisa menjadi longlife motivation untuk terus berkarya. Menulis untuk mengabadikan ilmu yang bermanfaat. Aamiin. Wallahu a'laam.
Muji Budi Lestari untuk #tantanganklubmenulisHSMNsulawesi
Langganan:
Postingan (Atom)
